Saturday, 26 April 2014

Kenali Gaya Belajar Anak di Usia Dini

Gaya belajar pada anak yang sudah diketahui ada tiga macam, yaitu, visual, auditori dan kinestetik. Banyak orang yang tidak tahu tentang karakteristik gaya belajarnya sendiri apalagi anaknya. Awalnya saya pun begitu, namum setelah banyak ngobrol sama beberapa teman, dan membaca artikel gaya belajar, saya jadi yakin kalau saya itu tipe visual. Seberapa penting sih mengenal tipe gaya belajar ini?

Penting sekali, saya sebagai guru di TK harus tahu karakteristik masing-masing anak murid saya, apakah visual, auditori maupun kinestetik. Hal ini berpengaruh pada cara saya mengajarkan suatu hal pada anak yang berbeda-beda. Misalnya, saat akan mengenalkan bentuk geometri pada anak, si anak visual akan mudah mengenali bentuk walau hanya dengan melihat gambarnya saja. Tapi anak tipe audotori akan lebih mudah mengenali bentuk tersebut dari lagu misalnya, sedangkan anak tipe kinestetik akan mengenali bentuk setelah ia pegang bentuk tersebut, dilihat, diraba dari berbagai sisi, dll.

Sebagai guru dan orang tua, kita harus mengembangkan ketiga gaya belajar tersebut, walaupun pada akhirnya ada satu atau dua yang paling menonjol. Hal ini pula yang saya coba sendiri pada Jalu. Semenjak bayi, saya coba kenali cara bermainnya.

Hal yang menjadi minat anak terutama anak laki-laki seperti Jalu adalah binatang, sehingga dari bayi saya sering membawakan Jalu buku cerita tentang binatang, miniatur binatang, dan mengoleksi lagu-lagu binatang. (Sebaiknya saat akan memperlihatkan gambar suatu benda pada anak terutama bayi harus berupa gambar nyata, maksudnya bukan gambar kartun atau animasi).

Membacakan atau memperlihatkan buku cerita pada anak mengasah kemampuan visualnya, sedangkan mendengarkan lagu-lagu binatang mengasah kemampuan auditorinya, sementara bermain dengan miniatur binatang mengasah kemampuan kinestetiknya, karena anak akan belajar melihat detil bagian binatang tersebut. Bermain berpura-pura menjadi binatang juga melatih kemampuan kinestetik anak.

Para orang tua berikan variasi kegiatan yang beragam ya, karena selain anak-anak itu cenderung mudah bosan, ternyata kegiatan bermain yang berbeda melatih gaya belajarnya juga. Selamat mencoba

Jalu sedang bermain bentuk dan warna, karena usianya masih 20 bulan, saya hanya mengenalkan warna saja. Saya hanya mengajaknya untuk mengelompokkan warna yang sama kedalam satu wadah. Kegiatan ini melatih kemampuan visual dan kinestetiknya.

Si Pendengar dan peniru ulung

Udah lama ga nulis tentang Jalu, dan sekarang Jalu udah 20 bulan. Di usianya sekarang perkembangan bahasanya semakin berkembang, subhanallah. Gak cuma itu aja, semakin banyak hal yang bikin ami dan abinya kaget, deg-degan dan geleng-geleng kepala. Intinya di usia dia sekarang ini orang tua emang harus serba hati-hati dalam bersikap dan bicara karena ada si pendengar dan peniru ulung.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya selalu mengajak Jalu bicara semenjak di dalam kandungan hingga sekarang. Saya selalu melibatkan dia dalam setiap hal yang saya lakukan. Harapan saya pada awalnya semoga Jalu jadi anak pintar. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya pintar? Nah, ternyata menghadapi anak pintar itu harus ekstra sabar (pede aja kalo Jalu emang anak pinter,#emakemaknarsis,hehe).

Awalnya saya banyak cerita tentang hal yg kami temui, misalnya,
"Lihat itu ada pesawat terbang di atas, dan ada kupu-kupu juga, sama-sama punya sayap loh." Kata saya pada Jalu.
Saya juga selalu menceritakan hal yg sedang saya lakukan, misalnya,
"Ami lagi bikin susu Jalu, diisi air anget, terus di kocek-kocek sampe larut, jadi deh."
Terdengar sepele dan mungkin sebagian orang menganggap itu berlebihan, tapi hal itu terbukti mengasah kemampuan bahasa anak. Sekarang dia selalu menjelaskan apa yang sedang ia lakukan dan apa yang dia lihat.
"Ami alu atoh, akit, anah" (Ami Jalu jatoh sakit disana)

Yang perlu diwaspadai adalah kita harus pintar-pintar memilih kata saat bicara, sebab anak yang mendengar akan langsung menyerapnya.
Satu yang agak menggangu dari Jalu adalah kebiasaannya memanggil dengan suara keras. Misalnya akan memanggil saya, abinya ato neneknya padahal jarak kami tidak terlalu jauh, dia akan memanggil dengan suara keras "AAAMIIIIII!!!" Saya yakin hal itu pasti ada pemicunya, pasti ada contoh yang dia ikuti, padahal saya tidak pernah memanggil dia keras-keras. Akhirnya saya ingat bahwa kami (orang rumah) akan memanggil siapapun yang sedang berada di lantai 2 dari bawah dengan suara keras. Mungkin itu yang Jalu ikuti, dia belum tahu dan belum bisa menempatkan bagaimana cara memanggil orang. Contoh yang dia lihat, maka itulah yang dia ikuti.

Sayangnya, banyak sekali orang tua yang mengeluhkan tentang perilaku anaknya yang menurut mereka mengganggu, misalnya, "Anak saya kenapa ya sering marah-marah aja? Rewel." Mungkin sebaiknya para orang tua melihat ke diri sendiri dulu, apakah dalam pola asuhnya sering memarahi anak atau tidak. Anak yang sering dibentak akan membentak juga. Anak yang dipukul akan memukul juga, dan lain sebagainya. Memang tidak mudah menjadi orang tua yang baik, tapi berusahalah sebaik mungkin, berharaplah semoga anak kita menjadi anak yang baik, maka berbuat baiklah padanya.