Saturday, 26 October 2013

Jalan-Jalan Santai Tanpa Papa Mama

Kegiatan Klab GagasCeria siang itu berbeda dengan kegiatan biasanya. Anak-anak kelas kepik, kumbang dan kupu-kupu bersiap melakukan kegiatan di luar kelas. Ya! Siang itu rabu, 23 oktober 2013 anak-anak klab besar dan kecil akan melakukan eksplorasi bis, anak-anak akan diajak untuk jalan-jalan menggunakan bis keliling kota Bandung, anak akan dibiasakan untuk melakukan perjalanan tanpa didampingi orang tua dalam kegiatan outdoor yang rutin dilaksanakan di setiap tema selama satu tahun.

Anak-anak kelas kumbang dan kupu-kupu sangat antusias melakukan perjalanan ini, mereka tampak asyik melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan. Untuk beberapa anak kelas kepik, perjalanan ini tidak mudah dilakukan, beberapa dari mereka menangis hingga harus ditenangkan ibu guu, namun karena mereka anak yang hebat, mereka pun akhirnya dapat berhenti menangis dan menikmati perjalanan.

Awalnya, kegiatan hari itu hanya jalan-jalan berkeliling kota Bandung, namun ketika bis melaju di jalan Anggrek, anak-anak berteriak kegirangan saat melihat taman bermain. Maka akhirnya kami memutuskan untuk melakukan kegiatan disana selama beberapa saat. Sayang sekali saya tidak sempat mengabadikan keceriaan mereka disana, karena saya terlalu asyik bermain bersama mereka. ;)

Perjalanan kami saat itu sungguh berkesan. Anak-anak terlihat gembira dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka.



Anak-anak menikmati perjalanan mereka, mereka pun sempat bergaya.
'smiiileeeeee' 




walaupun sempat menangis, tapi Belva anak hebat, jadi menangisnya sebentar saja, 
( yeee belva hebat)


samira tidak mau duduk di kursi, ia tampak asyik melihat pemandangan
'itu ada kuda, aku liat kuda' teriak samira


cema memilih duduk bersama arkan, cema senang sekali karena ini pertama kalinya ia naik bis. 



'bu guru,  kita mau ke kebun binatang yah?'
tanya aya, sedangkan jehan meminta maaf karena tidak membawa topi, 'bu, ade gak bawa topi, maafin ade yah,' (padahal jehanbtidak perlu meminta maaf hehehe)

Gagasceria Goes to ITB

Pada tema kedua ini anak-anak TKA GagasCeria ceria diajak untuk menjadi seniman. Dengan judul tema yaitu 'Aku Seniman Cilik' anak-anak diharapkan dapat mengorganisasikan kegiatan berkarya dimulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi, dan pada akhir tema anak-anak akan mengadakan pameran karya seni yang akan dihadiri oleh orang tua masing-masing.

Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai sebuah pameran, maka pada hari rabu, 23 oktober 2013 dan jumat, 25 oktober 2013 anak-anak diajak berkunjung ke Galeri Soemardja di kawasan Institut Teknologi Bandung yang kala itu tengah menggelar pameran lukisan karikatur karya bapak Yayak Yatmaka. Saat dikonfirmasi tentang rencana kedatangan anak-anak GagasCeria, bapak Yayak terlihat antusias, beliau memberi apresiasi positif terhadap kunjungan kami, namun beliau sedikit khawatir karena beberapa karyanya kala itu belum bisa dipahami oleh anak. Namun pada akhirnya beliau sepakat untuk menutup beberapa karyanya saat kunjungan kami tiba.

Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan outdoor kali ini, ketika bis sekolah memasuki  area kampus ITB sebagian anak-anak langsung berdiri dan merapatkan wajahnya ke jendela untuk melihat halaman yang luas, serta gedung-gedung kampus yang besar.

Sebelum menuju ke Galeri Soemardja yang berada di area Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD), kami terlebih dahulu berkumpul di salah satu taman untuk pemanasan, anak-anak diperbolehkan untuk berlari, dan betul saja, mereka langsung berlari berhamburan kesana kemari. Kedatangan kami saat itu menjadi pemandangan unik bagi mahasiswa ITB, tak jarang mereka melambaikan tangan ke arah kami dan tersenyum melihat anak-anak TK yang polos.

Sebelum memasuki gedung pameran, kami disuguhkan dengan berbagai karya seni patung yang berada di taman dekat Galeri Soemardja. Anak-anak dibiarkan untuk melihat dan mengeksplorasi karya seni tersebut.

Kelas Awan mendapat giliran ketiga untuk masuk ke dalam pameran setelah kelas Air dan kelas Angin. Sebelum melihat-lihat lukisan yang ada, beberapa perwakilan anak diajak untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu.

Selama kunjungan tersebut Bapak Yayak mau berbaik hati mendampingi anak-anak melihat hasil karyanya, serta menjawab berbagai pertanyaan anak dengan jawaban sederhana yang mudah dipahami anak.

Sebelum meninggalkan gedung pameran, kami menyempatkan untuk berfoto dengan bapak Yayak sambil meneriakkan kata "Merdeka!!". Oia, bapak Yayak pun berpesan pada anak-anak untuk rajin belajar, terus berkarya dan jangan terlalu banyak main apalagi main game :D

Setelah selesai melihat berbagai karya seni, anak-anak diajak untuk membuat sketsa gambar tentang hal yang paling menarik selama kegiatan hari itu. 
Sepulang dari pameran, anak-anak menjadi sangat semangat untuk membuat pameran sendiri. Semoga pameran gagasceria yang akan datang akan berjalan dengan lancar. 



sebelum memasuki gedung pameran farrel, azka, rezvan dan Inda sedang mengisi buku tamu


anak-anak terkesan dengan karya seni lukisan bapak Yayak 
Yatmaka

'ini kok bunganya kebakar? kan kasian..' kata 
Mika


queen pun bertanya, 'Kenapa itu orangnya teriak
?'

foto dulu sama bapak Yayak sebelum pulang, '
Merdeka!'



membuat sketsa gambar,
'lihat gaya mereka, sudah seperti seniman kan?'

Tuesday, 15 October 2013

Kami Berani Periksa Gigi

Pada hari senin, 7 oktober 2013 lalu, Klab besar dan Klab kecil GagasCeria
kelas kepik, kelas kumbang dan kelas kupu-kupu kedatangan seorang tamu istimewa. Seseorang yang memakai  jas berwarna putih, serta membawa berbagai peralatan untuk memeriksa gigi. Ya! Siang itu drg. Malati Paggi datang berkunjung untuk memeriksa gigi anak-anak.

Siang itu, anak-anak diajak untuk antri menunggu giliran periksa. Satu per satu tiap anak dilihat giginya oleh ibu dokter. Sebagian besar anak klab besar dan klab kecil sangat antusias saat pemeriksakan gigi. Mereka tak ragu untuk membuka mulutnya saat bu dokter memberi instruksi. Kemudian Bu dokter mengamati gigi mereka dengan seksama. Ia menulis catatan pengamatan di dalam lembar observasi yang nantinya akan di laporkan kepada orang tua.

Sebagian anak lainnya masih terlihat ragu-ragu untuk diperiksa. Namun setelah dimotivasi ibu guru dan ibu dokter, mereka pun mau mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan periksa gigi memang sudah menjadi agenda rutin tahunan Klab GagasCeria. Setiap 6 bulan sekali, anak-anak dilihat perkembangan giginya secara berkala. Kegiatan ini bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi anak usia 2-4 tahun. Karena selama kegiatan berlangsung, anak-anak diajak mandiri karena tidak didampingi orang tua. Wah hebat ya, ternyata semua anak klab GagasCeria berani periksa gigi sendiri.

Kegiatan hari itu pun diakhiri dengan membacakan cerita mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi. Kini mereka tahu betapa pentingnya menyikat gigi setiap hari dan rajin memeriksakan kesehatan gigi ke dokter.

                 lihat..kami anak-anak kelas kepik berani periksa gigi 
                                         
                                     
               
                kami kelas kumbang dan kupu-kupu pun tak kalah hebatnya loh

Monday, 14 October 2013

Quality Time is A Must!

Sebagai orang tua yang bekerja, kebersamaan bersama anak adalah moment yang langka. Dalam satu minggu anak mendapat 'jatah' bermain bersama orang tua hanya dua hari atau mungkin kurang. Namun, itu tetap selalu saya syukuri.

Berawal dari hal tersebut, saya berkomitmen untuk selalu berusaha memanfaatkan waktu kebersamaan dengan anak secara optimal. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menemani si kecil, 'membayar ganti rugi' istilah kasarnya. Tentunya diisi dengan hal-hal positif.

Seperti yang saya lakukan bersama Jalu hari minggu tanggal 13 oktober 2013 lalu. Saya berencana membuat adonan dough atau banyak orang menyebutnya palydough. Bukan hal yang sulit untuk membuatnya, karena bahan-bahan yang digunakan sangat mudah didapat.

Bahan adonan dough

Tepung terigu 250gr
Air secukupnya
Minyak goreng 2 sdm
Pewarna makanan secukupnya
Garam 1 sdt

Jalu terlihat sangat bersemangat saat itu, ia berjalan kesana kemari, senyum sana sini, serta berteriak-teriak girang. Saat saya menuangkan terigu dan mencampurnya dengan air, Jalu terlihat penasaran dengan mencoba menempelkan jarinya ke atas terigu, kemudian saya biarkan ia mengaduk-aduk adonan terigu itu. Ketika kedua tangannya sudah berlumur terigu yang lengket, ia menjerit dan berusaha mengelap tangannya. Kemudian ia beranjak dan sembunyi di balik pintu. Akhirnya ia pun melakukan gerakan cilukba di balik pintu itu.

Saya terus mengaduk adonan dough tersebut, secara bergantian menuangkan minyak dan air sedikit demi sedikit hingga adonan menjadi kalis. Setelah adonan tidak lengket, saya membagi menjadi 2 adonan, keduanya akan saya beri warna hijau dan merah (Ternyata menjadi warna pink)

Agar adonan menjadi berwarna secara menyeluruh, harus di remas-remas terlebih dahulu. Nah saya kembali mengajak Jalu untuk membantu saya meremasnya. Hal ini bisa melatih otot tangan anak menjadi lebih kuat. Sebelum anak dikenalkan dengan alat tulis, ada baiknya anak diajak untuk berlatih menguatkan otot-otot tangannya.

Ternyata bukan hal yang mudah bagi saya untuk mengajak Jalu melakukan hal ini, Jalu sedikit ragu, walaupun akhirnya mau duduk dipangkuan saya, saya pegang kedua tangannya untuk memegang adonan dough tersebut, dan betul saja dugaan saya, Jalu menangis dan menolak melakukannya. Kemudian setelah adonan siap, saya memberinya sendok serta mengajarinya cara memotong-motong adonan. Ia tertarik mencobanya, bahkan berpura-pura memakan adonan itu, kemudian Ia berjalan menjauhi saya dan sembunyi dibalik motor, ia kembali melakukan permainan cilukba dan memutar-mutar ban motor.

Walaupun begitu, saya senang bisa melakukannya bersama anak. Berikan variasi permainan kepada anak. Bermain dough seperti itu juga merupakan cara melatih sensori motor pada anak, karena anak seusia Jalu harus diberikan banyak pengalaman mengenai tekstur halus, kasar, licin, lembek, lengket, dll. Selamat mencoba di rumah yaaaaa.

               
                                      jalu sempat berpose dulu sebelum bermain





kabur, teralih dan main cilukba


"ayo pegaaaaaang"


kabur lagi dan puter-puter rodaaaa

Mengatasi Anak Rewel saat Bepergian

Pernahkah anda merasa malas membawa si kecil saat berbelanja? Atau malas membawa si kecil saat harus bepergian jarak jauh? Sebagai orangtua, saya pun  merasakan hal yang sama seperti para orang tua lainnya. Namun ternyata bepergian jauh dan lama tidak selalu membosankan. Saya sudah membuktikannya!

Pertama, selalu membawa perbekalan untuk keperluan si kecil, seperti makanan, minuman, mainan, dan pakaian. Usahakan jangan sampai ada tertinggal.

Kedua, kenali penyebab rewel si kecil, mungkin dia lapar atau haus, sehingga pastikan memberinya makan sebelum berangkat, dan berikan biskuit untuk makanan cemilannya.

Ketiga, penyebab anak rewel lainnya adalah bosan. Ya betul! Anak anda bosan, bayangkan saja, ia harus mengikuti keinginan orangtuanya berbelanja selama berjam-jam, dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga pada akhirnya si kecil rewel dan menangis.

Jadi apa yang harus dilakukan orang tua? Jadikan 'perjalanan' anda dan si kecil bermakna bagi anak. Mungkin tujuan awalnya memang berbelanja (atau tujuan lainnya), tapi buatlah seolah-olah perjalanan ini menyenangkan. Bawa anak anda berimajinasi libatkan si kecil saat kita berkegiatan. Untuk yang belum terbiasa mungkin hal ini sulit dilakukan. Tapi bagi saya, hal ini selalu saya lakukan dimana pun dan kapan pun.

Sebelum berangkat, saya selalu berusaha untuk mengajak Jalu bicara, "Kita mau pergi, nanti di jalan banyak mobil, jangan rewel ya nak, yang pinter ya". Percakapan ini saya lakukan walaupun ia belum mengerti apa yang katakan dan saya selalu mengajaknya bicara walaupun dia belum bisa bicara. Tapi saya yakin, ia akan mengerti.

Di jalan, saya sangat sangat sering mengajak Jalu bicara, "Lihat Jalu, itu mobilnya kita susul yuk, dadaaah mobiiiil,, kita duluan ya, horeee kita menang."
Di mall saat berbelanja, biasanya saya akan berkata, "Lihat nak, banyak banget ya orang-orang disini, kita kesana yuk," Kemudian saya akan menggendongnya dan memperagakan seolah sedang menyetir mobil "Ngeeeeng, ngeeeeeeng,," Biasanya jalu mengikuti gerakan saya dan ikut bergumam 'Ngeeeng'
Saat sedang memilih barang belanjaan, biasanya saya akan, "Waaah, ini jeruknya besar ya, warnanya orange, halo Jalu, pilih aku, pilih aku, rasaku manis, jangan,,jangan,,aku aja, aku lebih manis,,,dsb,dsb"
Ketika Jalu ingin memegang dan tertarik dengan barang yang memang tidak akan kita beli, saya biarkan ia memegang sebentar, kemudian lagi-lagi saya suruh ia melambaikan tangan tanda perpisahan, "Dadaaaaaah,,,nanti aku kesini lagi yaaa"

Hal tersebut tidak bosan-bosan saya lakukan sebagai salah satu upaya saya dalam memberikan stimulus bahasa. Selalu memberikan 'label' dan memberikan nama terhadap benda atau peristiwa apapun. Jangan tunggu anak mengerti tentang yang akan didengarnya. Yang terpenting adalah memberikan peran kepadanya dalam berbagai situasi. Jangan sampai si kecil dianggap sebagai 'barang' yang kita bawa, bila hal itu terjadi maka si kecil akan rewel. Bila ternyata si kecil masih rewel juga, kemungkinan terbesar adalah ia mengantuk dan ingin istirahat.

Nah, jangan takut lagi membawa si kecil bersama anda ya,,,

Wednesday, 2 October 2013

Bermain Dramatisasi Sambil Mengenal Huruf

Banyak orang tua yang merasa kesulitan mengenalkan huruf kepada anak-anaknya. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang kemudian mendatangkan guru les privat untuk anaknya yang terbilang masih sangat muda. Nah, masalahnya pola pengajaran guru privat belum tentu menyenangkan bagi si anak. Seringkali anak harus dipaksa untuk duduk diam sambil membaca huruf-huruf yang diajarkan.


Beberapa waktu lalu saya dan ibu Rini sebagai guru kelas awan TKA GagasCeria, mencari cara yang menyenangkan bagi anak untuk bermain huruf. kami menempelkan trash bag hitam di dinding kelas, kemudian membuat awan-awan huruf A, I, U, E, dan O berwarna-warni yang di tempel di atas. kami menyekat trash bag itu dengan menempelkan kertas yang dibentuk seperti gelombang air.


Cara bermainnya sangat mudah, kami memberikan prolog kepada anak untuk menyelamatkan huruf-huruf yang tenggelam di dalam air agar membawa ke atas menuju awan huruf yang memiliki bentuk yang sama. Kemudian anak diajak untuk menyebutkan huruf tersebut.
Hal ini melatih konsep bentuk bagi anak, anak yang sudah bisa menyamakan bentuk huruf dengan betul, akan lebih mudah mengidentifikasi huruf tersebut. Tapi, perlu diingat ya, kita harus bersabar melihat respon anak, jangan patah semangat untuk terus memotivasi anak.

Ini dia, anak-anak senang bermain mengenal huruf di kelas 
                                                                            Awan

Tuesday, 1 October 2013

Meredam Keinginan Anak dengan Imajinasi

Saya ingin berbagi pada para pembaca, tidak berniat menggurui apalagi sok-sokan, saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya sebagai ibu dari seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 13 bulan.

Jadi ceritanya adalah, dulu saat saya sedang hamil, saya sering terlibat komunikasi dengan suami tentang masalah anak. Saya tanya sama suami, "Bi, kalau ntar anak kamu nangis-nangis histeris pengen beli sesuatu, abi mau gimana?" Kemudian si abi menjawab, "Ya kasih aja, beres kan?" saya yang sangat tidak setuju langsung menolak jawaban suami. 

Nah, tidak lama dari obrolan tersebut, saya dan suami main ke rumah saudara yang memiliki anak balita, disana kami disuguhkan dengan adegan si anak mengamuk karena tidak dituruti keinginannya, setelah si anak menangis histeris barulah akhirnya orang tuanya mengikuti keinginan anak, dan anak berhenti menangis. Kejadian-kejadian tersebut saya lihat beberapa kali dalam satu hari yang sama, dan polanya tetap sama, si anak merengek ingin sesuatu, menangis bahkan sampai mengamuk, barulah kemudian orang tua mengikuti keinginan anak.

Pulang dari tempat tersebut, saya kembali membahas hal tadi, 
"Tuh bi, kalau abi selalu ngikutin keinginan anak, gitu akibatnya, abi mau?" kemudian si abi menjawab
"Ya ga mau lah, ngeselin.

Singkat cerita saya dan suami sepakat kalau nanti anak kami lahir, kami tidak akan selalu mengikuti keinginan anak. Kemudian setelah Jalu lahir, saat itu ketika jalu baru berusia 7 bulan, saat sedang jalan-jalan dengan abinya, di pinggir jalan ada tukang balon, saya melihat jalu sedang mencoba meraih balon itu, kemudian si abi bilang, 
"mi, ini jalu pengen beli balon, kemudian saya tanya, 
"emangnya jalu udah bisa ngomong
? jalu kayak gitu karena dia suka lihat yang warna-warni, lagian kalau gak dibeli dia gak akan apa-apa. suruh 'dadahin' aja, dia belum ngerti bi, kalo dibeliin juga gak manfaat.

Dan akhirnya jalu melambaikan tangannya kepada si balon-balon itu.

Nah kebanyakan orang tua, sering menyimpulkan sendiri atau berasumsi dengan hal-hal yang belum tentu tidak sesuai dengan kenyataannya. 
Mengeluarkan uang 10 ribu untuk sebuah balon memang tidak sulit, dan
seringkali kita sebagai orang tua terjebak dengan keadaan ingin menyenangkan anak, serta melihat anak selalu tersenyum.

Padalah orang tua mana yang ingin anaknya sedih, dan bukan berarti dengan selalu menyetujui keinginan anak adalah kebaikan untuk anak itu sendiri. 
Apalagi yang membuat saya miris adalah banyak sekali orang tua yang tidak mau direpotkan dengan tangisan anak sehingga langsung memberi yang mereka inginkan.

Masalahnya, hal itu memang tidak mudah untuk dilakukan, apalagi untuk orang tua yang sibuk bekerja, jarang bertemu anak, sehingga sebagai 'ganti rugi'-nya adalah dengan memberikan semua keinginannya tanpa melihat kebutuhan si anak.

Saya berusaha untuk konsisten dengan tidak membelikan hal-hal yang kurang bermanfaat, sehingga saat ini, setiap saya dan keluarga jalan-jalan dan melihat    tukang balon dan berbagai mainan, jalu langsung melambaikan tangannya sambil berkata 'dadaaaaah'. 

Satu hal lagi yang ingin saya share  adalah  tentang pengalaman saya yang mulai kesulitan menyuapi jalu, menyikat giginya, menggunting kuku, dan masih banyak lagi. Saya yakin pasti banyak orang tua yang mengalami hal serupa, sehingga kita sering kehilangan kesabaran dan jadi ikut marah-marah dan memaksakannya kepada anak. Sayangnya si anak menjadi trauma dan semakin tidak mau melakukan hal tersebut. 

Contoh yang biasa saya lakukan pada anak saat ia tidak mau gunting kuku adalah mengajaknya duduk tenang, kalau dia langsung menolak, saya ajak dia ngobrol, kebetulan yang menjadi minatnya saat ini adalah cicak, jadi saya bercerita tentang cicak. 
'eh, lihat ada cicak lagi liatin jalu, ami bilang sama cicak ya kalau jalu hari ini gak hebat, gak mau gunting kuku, tuh cicaknya nyamperin mau kesini, sini cicak, kukunya di gunting dulu ya, eeh cicak hebat, waaah jalu juga hebat kok, mau digunting kukunya.' 
itu hanya contoh percakapan saya dengan jalu dan cicak, haha. 

Alhamdulillah hingga saat ini selalu berhasil, memang tidak selalu melalui media cicak, bisa melalui media yang anak sukai saat itu. 
Kalau memang anak sedang ingin main, main saja dulu, sambil sedikit-sedikit kita ajak ngobrol, karena bagi si anak, kegiatan menggunting kuku itu tidak bermakna, mungkin dalam hatinya 'buat apa sih si ami teh gunting kuku aku terus.' karena bagi anak kecil seperti jalu, ia belum bisa memahami pentingnya menjaga kebersihan kuku. jadi kalau ada orang tua yang memaksa gunting kuku anaknya sambil teriak marah-marah, hal itu hanya membuang energi, karena anak belum paham.

Kegiatan berimajinasi dengan anak adalah jembatan komunikasi kita sebagai orang tua dan anak-anak. 
Sehingga jangan terlalu memaksakan apa yang baik menurut kita dan belum tentu menyenangkan untuk anak, mungkin kita perlu refleksi, ketika cara pertama belum berhasil mungkin cara kedua dan ketiga akan berhasil. 
Jangan lupa untuk selalu bersabar ya.











Best Job Ever!!

Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa pada akhirnya saya akan menjadi seorang guru, terlebih menjadi guru taman kanak-kanak. Pernah sih terlintas, tapi saya tidak menyangka ini akan benar-benar saya jalani.

Banyak teman-teman saya yang tidak percaya dengan profesi baru saya ini. "Serius Lan jadi guru TK? Gimana murid-muridnya yah kalau gurunya kayak kamu?" Tapi yang lebih miris itu ketika komentar  keluar dari adik sendiri, "Gak kebayang murid-murid si teteh kalau gurunya siga teteh mah."

Bukan tanpa alasan mereka berkomentar demikian, hal ini karena katanya sifat saya yang seperti anak-anak. Tapi inilah tantangannya, saya percaya saya bisa. Biarlah sifat kekanak-kanakan ini menjadi hiburan bagi rekan kerja saya saja :)

Lalu bagaimana rasanya menjadi guru TK? Hmm rasanya luar biasa. Ini bukanlah sekedar pekerjaan, namun ini lebih dari sekedar itu. Ketika memilih ini sebagai profesi, maka segala hal dari diri saya berubah, cara pandang saya melihat anak-anak, bagaimana saya berbicara, bagaimana cara saya berinteraksi dengan rekan kerja, dan banyak hal lainnya. Tidak mudah memang, namun disitulah perjuangannya.

Pertama kali melihat anak-anak yang lucu berseragam taman kanak-kanak membuat saya berpikir di dalam hati, "Bener ini murid saya? Bener sekarang saya jadi guru? Terus saya harus gimanaaaaa?" Tapi kemudian saya hanya senyam-senyum saja bersama mereka, saya main bersama mereka, saya tertawa bersama mereka, dan tiba-tiba tidak terasa waktu mengajar saya habis. Teng! Waktunya pulang. Segitu saja? Ooooo tentu saja tidak, itu baru permulaan. Banyak cerita seru lainnya, anak-anak yang begitu mewarnai hari-hari saya. Anak-anak yang seringkali mengingatkan saya atas masa kecil yang begitu bahagia. It's a best job ever! Menemani perjalanan hidup seorang anak di masa "Golden Age" mereka.