Tuesday, 1 October 2013

Meredam Keinginan Anak dengan Imajinasi

Saya ingin berbagi pada para pembaca, tidak berniat menggurui apalagi sok-sokan, saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya sebagai ibu dari seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 13 bulan.

Jadi ceritanya adalah, dulu saat saya sedang hamil, saya sering terlibat komunikasi dengan suami tentang masalah anak. Saya tanya sama suami, "Bi, kalau ntar anak kamu nangis-nangis histeris pengen beli sesuatu, abi mau gimana?" Kemudian si abi menjawab, "Ya kasih aja, beres kan?" saya yang sangat tidak setuju langsung menolak jawaban suami. 

Nah, tidak lama dari obrolan tersebut, saya dan suami main ke rumah saudara yang memiliki anak balita, disana kami disuguhkan dengan adegan si anak mengamuk karena tidak dituruti keinginannya, setelah si anak menangis histeris barulah akhirnya orang tuanya mengikuti keinginan anak, dan anak berhenti menangis. Kejadian-kejadian tersebut saya lihat beberapa kali dalam satu hari yang sama, dan polanya tetap sama, si anak merengek ingin sesuatu, menangis bahkan sampai mengamuk, barulah kemudian orang tua mengikuti keinginan anak.

Pulang dari tempat tersebut, saya kembali membahas hal tadi, 
"Tuh bi, kalau abi selalu ngikutin keinginan anak, gitu akibatnya, abi mau?" kemudian si abi menjawab
"Ya ga mau lah, ngeselin.

Singkat cerita saya dan suami sepakat kalau nanti anak kami lahir, kami tidak akan selalu mengikuti keinginan anak. Kemudian setelah Jalu lahir, saat itu ketika jalu baru berusia 7 bulan, saat sedang jalan-jalan dengan abinya, di pinggir jalan ada tukang balon, saya melihat jalu sedang mencoba meraih balon itu, kemudian si abi bilang, 
"mi, ini jalu pengen beli balon, kemudian saya tanya, 
"emangnya jalu udah bisa ngomong
? jalu kayak gitu karena dia suka lihat yang warna-warni, lagian kalau gak dibeli dia gak akan apa-apa. suruh 'dadahin' aja, dia belum ngerti bi, kalo dibeliin juga gak manfaat.

Dan akhirnya jalu melambaikan tangannya kepada si balon-balon itu.

Nah kebanyakan orang tua, sering menyimpulkan sendiri atau berasumsi dengan hal-hal yang belum tentu tidak sesuai dengan kenyataannya. 
Mengeluarkan uang 10 ribu untuk sebuah balon memang tidak sulit, dan
seringkali kita sebagai orang tua terjebak dengan keadaan ingin menyenangkan anak, serta melihat anak selalu tersenyum.

Padalah orang tua mana yang ingin anaknya sedih, dan bukan berarti dengan selalu menyetujui keinginan anak adalah kebaikan untuk anak itu sendiri. 
Apalagi yang membuat saya miris adalah banyak sekali orang tua yang tidak mau direpotkan dengan tangisan anak sehingga langsung memberi yang mereka inginkan.

Masalahnya, hal itu memang tidak mudah untuk dilakukan, apalagi untuk orang tua yang sibuk bekerja, jarang bertemu anak, sehingga sebagai 'ganti rugi'-nya adalah dengan memberikan semua keinginannya tanpa melihat kebutuhan si anak.

Saya berusaha untuk konsisten dengan tidak membelikan hal-hal yang kurang bermanfaat, sehingga saat ini, setiap saya dan keluarga jalan-jalan dan melihat    tukang balon dan berbagai mainan, jalu langsung melambaikan tangannya sambil berkata 'dadaaaaah'. 

Satu hal lagi yang ingin saya share  adalah  tentang pengalaman saya yang mulai kesulitan menyuapi jalu, menyikat giginya, menggunting kuku, dan masih banyak lagi. Saya yakin pasti banyak orang tua yang mengalami hal serupa, sehingga kita sering kehilangan kesabaran dan jadi ikut marah-marah dan memaksakannya kepada anak. Sayangnya si anak menjadi trauma dan semakin tidak mau melakukan hal tersebut. 

Contoh yang biasa saya lakukan pada anak saat ia tidak mau gunting kuku adalah mengajaknya duduk tenang, kalau dia langsung menolak, saya ajak dia ngobrol, kebetulan yang menjadi minatnya saat ini adalah cicak, jadi saya bercerita tentang cicak. 
'eh, lihat ada cicak lagi liatin jalu, ami bilang sama cicak ya kalau jalu hari ini gak hebat, gak mau gunting kuku, tuh cicaknya nyamperin mau kesini, sini cicak, kukunya di gunting dulu ya, eeh cicak hebat, waaah jalu juga hebat kok, mau digunting kukunya.' 
itu hanya contoh percakapan saya dengan jalu dan cicak, haha. 

Alhamdulillah hingga saat ini selalu berhasil, memang tidak selalu melalui media cicak, bisa melalui media yang anak sukai saat itu. 
Kalau memang anak sedang ingin main, main saja dulu, sambil sedikit-sedikit kita ajak ngobrol, karena bagi si anak, kegiatan menggunting kuku itu tidak bermakna, mungkin dalam hatinya 'buat apa sih si ami teh gunting kuku aku terus.' karena bagi anak kecil seperti jalu, ia belum bisa memahami pentingnya menjaga kebersihan kuku. jadi kalau ada orang tua yang memaksa gunting kuku anaknya sambil teriak marah-marah, hal itu hanya membuang energi, karena anak belum paham.

Kegiatan berimajinasi dengan anak adalah jembatan komunikasi kita sebagai orang tua dan anak-anak. 
Sehingga jangan terlalu memaksakan apa yang baik menurut kita dan belum tentu menyenangkan untuk anak, mungkin kita perlu refleksi, ketika cara pertama belum berhasil mungkin cara kedua dan ketiga akan berhasil. 
Jangan lupa untuk selalu bersabar ya.











No comments: